Cerita Negeri Antah Berantah.
Tua tengil luncok getah nangko penghianat Negeri Antah Berantah, tak beradap menjual harga diri kepada kontraktor asing sampai Pribumi mati di lumbung padi.
Kepala kantor perkebunan Negeri Antah berantah tersebut Labi tue daon nangke kereng pule bersama udin labu belong mantan simpanan dua terong dengan terang terangan menjual proyek jalan produksi kepada kontraktor luar.
Tunggol tue marimas kremi dinces tersebut telah mencoreng nama mama Marni uye uye sebagai Bupati Negeri Antah Berantah.
Kelakuan Labi tue kereng kerak panci tersebut seolah telah memolerkan tempoyak puyokan ke wajah mama Marni uye uye, persis seperti londo irenk, belibes kurap tersebut memalukan kelawainya sendiri di tengah slogan memprioritaskan kotraktor Pribumi.
Pantas saja daya beli rakyat menurun, teryata perputaran uang berali ke Negeri lain akibat kelakuan londo koneng dan udin koneng.
Dua terong koneng tersebut menjadi da'jal bermuka dua, di awal ucapannya membara bara sebaliknya sekarang mulutnya berucap kelawai kami bupati mama marni kami... Uye uye.
Sebagai Bupati edisi baru hendaklah mama marni uye uye berwaspada terhadap baskom parut kelapo tersebut sebab rainyo la tigo belas dak lagi rai duo belas.
Tatakan rinso caer tersebut tergolong tidak punya malu, masuk Negeri Antah Berantah ngandalke dekeng Bupati tetapi sudah menjadi pejabat mencoreng muka Bupati.
Baru baru ini tue rendet antan delapan tersebut juga nencoreng muka mama marni uye uye karena mengaku membantu kopi kopi lokal eksport ke luar negeri
Prettt muko lu jauh....
Sontak saja persatuan Barista kiwir kiwir marah meradang sejadi jadinya, caci maki dan umpatan kian tak terkendali.
Londo Irenk, terong koneng, Tunggul tue, getah nangko, kerak panci, belibes kurap, Gelok bekasan, tue rendet, labi tue, kremi dinces, tatakan rinso, marimas melon, rai tige belas...... Onde.....Negeri yang terjual.





